saat ini terbunuh sepi begitu dalam, hingga seluruh jiwaku tertanam dalam teori ruang gerak, aku terkapar hingga jiwamu yang puas mentertawakan diriku. ah, kau berhasil memasungku dalam botol hingga aku seperti jiwa-jiwa gila yang terpesona akan nasib sial, kau begitu indah dan aku berhasil memilikimu hingga kau melahirkan generasi merah dan biru, aku masih setia menjadi abu di episod terakhir saat hujan, aku ingin membunuhmu dalam teori waktu, aku ingin menaklukan semua malam hingga jiwamu dalam kekecewaan dalam diriku menguap, seperti musik blues yang mengalir dalam impian senyawa yag kau ciptakan,
hari ini aku melupakan hari pernikahan kita, aku tenggelam dalam alunan biola hingga aku menjadi sebuah arca batu yang menganga. bahkan ketika aku lewat di toko sepatu, aku melupakan sepatu yang pernah kau minta beberapa bulan lalu. aku begitu hina, hingga aku terpesoan gadis lain dalam pelukan senja, dalam senyuman pelangi yg mengajakku berlari dalam impian blues.
teori-teori masa kuliah dulu seperti tumpukan sampah yg menjadi kompos dan menyuburkan sakit hatimu, aku menulis puisi aku baca di makam tua di bawah sore. menjelang malam aku menyanyikan lagu duka sambil melewati jalan setapak di mana dulu kita sering melewati senja saat aku menjemputmu bekerja.
dukamu adalah sebuah meriam yg lama tak kubersihkan…






